Tuesday, February 22, 2011

Suara-suara Saat Bercinta, Erotis atau Berisik?


orgasme













SUARA-suara yang keluar dalam aktivitas seksual, seperti mendesah, mengerang, bahkan menjerit, mampu menambah semaraknya hubungan intim bersama pasangan.

Bahkan sebagian pria langsung “turn-on” begitu mendengar desahan seksi dari televisi atau video.

Ya, hanya mendengar suaranya saja sudah membuat pria lemas!

Namun tak sedikit pula pria yang merasa terganggu jika pasangannya bersuara saat berhubungan intim. Karena berisik atau desahan pasangannya tak se-seksi bintang film panas, entahlah.

Dr. Roy J Levin memaparkan sejumlah manfaat bersuara saat bercinta.

Baginya, apapun jenis suara yang dihasilkan, dapat membuat hubungan seksual lebih “hot” dan meningkatkan stimuli erotis pada kedua pihak.

Berikut 3 manfaat bersuara saat bercinta menurut Dr. Levin yang dikutip laman Guardian:

1. Bentuk Komunikasi

Sadar atau tidak, suara-suara yang muncul secara spontan saat bercinta merupakan bentuk komunikasi non-verbal.

Dengan mengeluarkan desahan-desahan menggoda, Anda secara tak langsung menunjukkan kenyamanan yang Anda rasakan.

Pasangan pun akan semakin bersemangat, karena desahan-desahan itu juga berarti Anda amat menikmati permainannya.

Suara-suara ini juga berfungsi sebagai isyarat. Menjelang orgasme, misalnya. Sadarkah Anda, desahan akan berubah menjadi jeritan di saat orgasme tiba?

2. Meningkatkan Gairah

Pernah melihat aksi penyanyi orkes dangdut keliling yang tampil dengan goyangan erotis dan desahan di sela-sela nyanyiannya?

Desahan itu tentu tak dicantumkan dalam lirik lagu, namun terbukti ampuh menambah saweran dari para penonton.

Pria –dan juga sebagian wanita- mudah terstimuli dengan berbagai bentuk rangsangan, termasuk suara. Saat mengeluarkan desahan-desahan nakal, gairah bercinta akan semakin naik dan naik.

3. Menyelaraskan Sistem Gairah Dalam Tubuh

Seperti layaknya orang yang baru saja lari marathon, napas yang tersengal-sengal menandakan sinkronisasi antara pacu jantung yang bergerak cepat dengan ritme tarikan napas.

Levin menyebutkan, gairah seksual meningkat bukan hanya karena suara itu sendiri, tapi juga dampaknya terhadap pernapasan. Levin menyebut kondisi ini sebagai amplifikasi hedonic.

Dalam kondisi ini, seseorang bisa mengalami euforia ringan hingga nyaris trans. Saat itu, seseorang dapat tidak sadarkan diri dan terhanyut seperti saat menggunakan narkotik atau minuman keras.

Mengeluarkan suara-suara erotis memang tak wajib, bahkan harus dilakukan dengan hati-hati. Terlalu keras bersuara bisa mengganggu orang lain.

Seperti yang dialami Caroline Cartwright. Warga Newcastle, Inggris ini harus masuk bui karena terlalu keras mengerang saat bercinta dengan pasangannya.

Para tetangga yang merasa terganggu dengan ulahnya beramai-ramai mengadukan tingkahnya ke polisi. Cartwright pun harus menjalani 8 pekan masa tahanan.

Erotis sih boleh, tapi hati-hati, ya!

No comments:

Post a Comment

Post a Comment